Sabtu, 28 April 2012

Santet Sengketa

Aku sudah sangat dan sangat bosan setiap hari melihat dan mendengar pertengkaran itu. Benar-benar semuanya telah menjadi Qarun. Dan aku seperti terjebak dalam bioskop terkunci yang menayangkan film sengketa tiada henti. Aku sudah berteriak, tapi mereka tak pernah monoleh sedikitpun padaku, mereka semakin sengit saja bertengkar. Apa mereka tidak mengerti bahwa aku adalah orang yang paling tersiksa mendengar pertengkaran mereka.Aku kembali mendengar orang-orang berteriak dalam sela-sela tidur siangku. “ Tana rowa tang tana, pokok en arowah tangdik.” Yah suwara teriakan itu, aku sudah hafal. Itu suara Bu mamah yang mempertahankan tanahnya. Semuanya sudah benar-benar gila. Gila karena pengukuran tanah berubah,. Aku benar-benar tidak mengerti siapa sebenarnya yang salah. pemerintah yang mengukur tanah atau memang yang punya tanah? Ah benar-benar semuanya sudah terlalu. “ Dulu ini memang tanah Bu Muami, tapi ini sudah dibeli sama Gung Tija. Tanah ini dibeli dengan sistem barter dengan sapi.” Itu suara Alwiyah cucu pembeli tanah yang tanahnya sekarang sudah berdiri sekolah MI dan masjid Al-Intisar, sekolah MIku dulu tahun 1995-2001. “Ambu jek lako atokar. lagguk palagguh mun parloh sabellumah kol pettok kabbi sebedeh edinnak reyah entar kebalai desa.” Itu kalimat penutup pertengkaran hari itu. Aku semakin limbung menyaksikan pertekaran mereka. Mereka sudah benar-benar terobsesi untuk memiliki tanah seluas dua hektar itu. Mereka? Pihak alwiyah atau pihak Bu Mamah cucu Bu Muami?. Hanya orang yang tak mengerti. Yang tak mengharapkan pagi ini datang dengan cepat. Sedangkan aku, menanti pagi ini dengan perasaan waswas, aku ingin cepat-cepat tahu siapa yang akan jadi pemilik dua hektar tanah itu. Aku ingin tahu apa masjid dan sekolahku itu akan dihancurkan. Aku benar-benar menantikan pagi ini. Dan aku kembali menjadi saksi bisu tanpa SK. Pagi ini ku naiki sepeda butut Paimo aku sudah sangat telat, mungkin disana sudah selesai,. “ Cepatan Mo, gas dong Mo di- gas.” Kutepuk bahu Paimo “ Tenang Neng, ini sudah pool.” jawabnya Karena aku benar-benar tak sabar aku mengomentari jawaban Paimo “ Ful kokkayak bebek ambeyen.” Paimo hanya mesem “ Maklum Neng punguk merindukan bulan.” Itu artinya Paimo menyetujui perkataanku. Dan dugaanku tak meleset. Orang-orang sudah berhamburan. Ku lihat wajah-wajah mereka. Wajah cumu-cumi, wajah kepiting rebus, dan ada lagi wajah dengan seringai mengerikan, semuanya berwajah aneh. lalu kulirik langkah-langhkah tujuan mereka. Langkah terburu-buru, menurutku itu langkah yang tak sempat sarapan tadi pagi. Dan benar saja mereka langsung menuju warung pembumkam cacing perut. Langkah dengan tenang dan asap rokok mengepul-ngepul, kupastikan mereka menuju warung kopi. Akan kuikuti langkah mereka, langkah asap rokok. Sruup sruup sruup sruup………. Ah membosankan, kenapa mereka tak bersuara juga, apa mereka sudah tak semengat 45 lagi memebicarakan sengketa tanah dua hektar itu. Sebenarnya siapa yang menang? Tanyaku dalam hati. “ Ehem hem………” Aku mencoba -coba menarik perhatian mereka, namun mata mereka tetap menatap kopi dalam teko kecil seharga seribu limaratus itu. Aku tak tahu apa yang mereka fikirkan tanah dua hektar atau harga kopi yang katanya akan naik lagi. “ Kaloar ben Mah monjet ben bengal.” Itu suara siapa?, sepertinya aku tak pernah mendengar suara cempereng seperti itu. Tapi kenapa masih ada teriakan, bukankah kemarin semuanya sudah bisu, bisu seperti tikus yang kena racun tikus dalam istana tikus. lalu iseng-iseng kulangkahkan kakiku menuju teras depan. Suara-suara semakin melengking dalam telingaku.Mengalahkan alunan musik yang kuputar sejak tadi pagi. Ah itu kan Ny Maf kanapa juga dia? Bukankan sengketa tanah dua hektar itu sudah selesai. “ Ada apa Bu itu di sana?” Tanyaku “ Itu Mamah katanya mencabut selang air punyaknya Ny Maf, katanya Mamah dendam sama keluarga Alwiyah karena dia yang mendapat dua hektar tanah itu, entahlah gakngerti juga.” Susana kembali memanas. Ada saja permasalahan yang dipertengkarkan. Aku pun sudah mulai bosan menjadi saksi tanpa Sk, ku biarkan mereke bertengkar tanpa aku. Kubiarkan langkah cepat menuju warung pembungkam cacing perut, kubiarkan langkah-langkah kaki dan asap rokok, dan kubiarkan harga kopi melambung tinggi, karena aku tak tahu harus bagai mana. Aku tak tahu tanah ini diukur setiap berapi kali dalam berapa kali. Tapi baru kali ini aku menyaksikan pengukuran tanah menuai sengketa, setiap kali pengukur tanah itu memutuskan batas tanah, saat itu pula batas damai diantara para pemilik tanah telah usai. Gencatan peluru mulut sudah dimulai sejak meteran pertama dimulai dan siap berhamburan pada suatu waktu saat pemerintah pengukur tanah itu memutuskan batas tanah. “ Paimo tunggu.’’ kuteriaki Paimo saat berlari bersama sepeda bebek ambeyen itu. “ Maaf Neng Kang Paimo harus cepat, ada yang kena santet.” Aku hampir tak mendengar suara kang Paimo, kuingat ingat, apa benar Kang paimo tadi mengatakan “SANTET” lalu siapa yang di santet? Aku kembali harus menjadi saksi tanpa Sk. Aku kembali mengikuti langkah kaki dengan asap rokok. Warung-warung kopi kembali ramai, ramai dengan perbincangan santet. “ Saat itu kataya Alwiyah belum tidur, kalau tak salah masih jam setengah dua belas, dia melihat cahaya sebesar telur menuju rumahnya, cahaya itu melambung tinggi melesat perlahan kemudian menukik tepat diatas rumahnya.” “ Apa selain Alwiyah ada yang melihat cahaya itu?” mereka menatapku perlahan, tak ada yang menjawab, mereka bergantian menatapku. Lalu berganti menatap kopi dalam teko kecil itu. Tak lama kemudian mereka meneruskan ceritanya. “ Anaknya Alwiyah yang masih berumur tujuh tahun itu esoknya perutnya kembung dan keluar paku dari anusnya.” Meringis mendengarkan mereka, aku ingin cepat pulang besok akan kutunggu Kang Paimo. Akan ku korek penjelasan yang dalam, awas kalau Kang Paimo tak lewat selatan rumahku lagi. Aku tak akan mengampuninya dan motor bebek ambeyenya itu. Pucuk dicinta ulampun tiba. pagi-pagi benar kulihat kang Paimo sudah mulai menaiki sepedda bebek ambeyennya, ku cegat dia. “ Maaf Neng, akang benar-benar terburu-buru.” Ujarkang Paimo sambil menepi tanpa mematikan mesin motornya, “ Kang Paimo tak boleh lewat sebelum menceritakan santet sengketa itu.” todongku tanpa melepas pegangan di bahu kang Paimo “ Ikut saja Neng, nanti saya ceritakan sambil jalan.” “ Sip, ini kemana Kang?” “ Kerumahnya pak kades, barusan anaknya Alwiyah yang kena santet meninggal, dan mengeluarkan banyak sekali pasir dan paku berkarat dari mulutnya.” Aku hanya bisa menelan ludah , aku sudah tak sanggup berkomentar, perutku sudah mulai mual membayangkan pasir yang keluar darimulutnya. “Beneran Kang, jangan mengada ada, entar dosa Kang.” Komentarku sok bijak “ Benar Neng. Sumpah demi sepeda ambeyen.” “ Kaaaaaaaaaaaaaaaaaang, berhenti .” Tak sengaja ku jitak kepala Kang Paimo “ liat kang di sana ada kerumunan orang,” aku menunjuk ke arah selatan “ Kesana dulu kang.” “ Tapi Neng?” “ Bentar aja Kang.” Aku meloncat, langsung menyatu dengan gerombolan itu. Kulihat bercak-bercak darah, baunya sangat anyir, ada apa ini? Kenapa semuanya menganga dan menatap onggokan itu. Aku tambah mendekat, aku menempel pada batas police line warna kuning itu. Hah apakah aku tak salah lihat? Ongokan itu suami Bu Mamah, kenapa bisa hancur begini? Kenapa juga tak ada yang bersuara? Bau anyir membuat ku pusing, aku ingin cepat-cepat kembali pada Kang Paimo. Tapi kenapa juga Kang Paimo tak bersuara? Dia menatap ke atas, hah bukankah itu usus, kenapa bisa nyangkut pada daun siwalan? “Neng ayo kita harus CEPAT.” Suara kang Paimo menyeretku menuju balai desa. “Waaaaaaaa, Kang liat itu Kang, liat Kang.” Teriakku sambil menunjuk-nunjuk pohon siwalan “ Ada apa Neng?” “ Itu Kang disana, itu Kang itu,” Aku mencengkram bahu Kang Paimo, aku sudah tak kuat menjadi pagi ini, “ Itu bokong Kang, itu bokong siapa?” aku terbata-bata menyempurnakan kalimatku. :) :) :) 1 Tanah itu tanahku, bagaimapun itu tanahku. 2 Cukup jangan selalu betengkar, besok sebelum jam tujuh kita menghadap ke Pak Kades. 3 Keluar Mah, kalau kamu memang berani. Pegun village, 21-11-2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar