Sabtu, 28 April 2012
Secangkir Kopi dan Bulan Sabit
Ia sudah sangat lama terbenam. Terbenam dalam rindu. Terbenam dalam gelisah dan terbenam dalam jawaban yang tak pasti. Ada sebuah kisah dan cerita yang tersimpan dalam hatinya. Ia terus bermimpi dan merajut mimpinya dalam setiap menit yang ia lewati.
“ Kau pasti mengerti kenapa aku selalu sendiri. Kau pasti paham kenapa aku melewati musim dingin tanpa seseorang yang bisa menyelimutiku dan membawakan kopi hangat untukku.” Suaranya pelan hampir mendekati tangis
“ Apa kau tahu sedang apa ia disana? Apa kau pernah melihatnya tersenyum bersama embun yang menggelantung di rumput-rumput ilalang? Atau melihatnya mendengarkan desiran angin yang selalu kubisiki pesan-pesan rindu?”
“ Kau tak akan percaya jika kukatakan kalau Senyumnya semanis gula-gula penyihir dan tawanya selembut salju yang jatuh dimusim dingin. Aku ingan ia tahu bahwa hingga hari ini aku masih merindukanya. Merindukan senyumnya, merindukan tawanya dan suaranya.”
Ia menyeruput kopi hangat dan melajutkan ceritanya pada bulan tsabit.
“ jika malam ini miliknya bukan untukku, aku ingin mengajaknya menikmati secangkir kopi dan menyambut kecupan-kecupanmu wahai bulan tsabit. Dan aku berharap semoga bintang kita tak bersebrangan.”
“ Kali ini aku sudah tidak kuat memendam rindu, rasanya rindu ini sudah menggerogoti otakku. Kau tahu aku sudah takmampu berfikir menggunakan logika, aku hanya bisa memikirkan perasaanku, tentang rinduku, tentang cintaku dan semua yang berkaitan denganya.”
“ Aku tahu sudah banyak yang mencibirku, tapi aku tak peduli. Mereka yang mencibirku ku yakin tak pernah merasakan rindu dan cinta senikmat yang kurasakan. Yang mereka pernah rasakan kuyakin bukan cinta dan rindu seperti yang kumiliki.” Ia lalu menunduk memutar cangkir kopinya…menyeruputnya dan meletakkanya perlahan.
“ Tadi malam ia mengunjungiku, membawakan setangkai bunga dan permen yang sangat manis. lalu ia menyuruhku memejamkan mata dan memintaku mengatakan sesuatu yang kuinginkan. Ku katakan tak ada yang kuinginkan selain melihatnya saat aku akan tidur dan melihatnya saat aku terbangun. Yah hanya itu saja. Apa menurutmu terlalu berlebihan.? Atau aku terlalu mengecilkan sesutu yang besar.?
Aku tak pernah menyesali pertemuan itu. Aku akan terus berjuang mendapatkan impiaku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar